2 September 2026,

Ketika aku membaca sebuah fiksi dan larut di dalamnya, aku paham kenapa dulu ayah tidak memperbolehkan aku membaca selain buku pelajaran. Semua kejadian seolah berputar dalam kepalaku, memberikan efek yang lebih tinggi daripada sebuah visualisasi biasa. Setiap kata dapat ku rasakan hingga membuatku sesak, terlebih jika deskripsi dalam cerita tersebut selurus dengan kehidupanku dan menyentuh sisi yang paling membuatku menyesal sampai putus asa.

Adalah sebuah fase kehidupan ketika sesak tersebut sangat tinggi memberikan dampak dibandingkan waktu lainnya, mungkin memang dalam satu fase lingkaran, ada waktu dimana aku sangat sensitif terhadap sesuatu yang tidak pernah terwujud dalam hidupku. Penyesalan itu memang selalu datang dan datang lagi seperti kaset yang tidak pernah putus dalam pitanya, terulang kembali dan terulang lagi pada bagian tertentu tidak terganti oleh rekaman baru yang seharusnya tertinggal sejak lalu.

Terbangun dari semua perasaan itu di pagi hari memberikan ruang kosong besar yang membuat segalanya tampak tidak lengkap. Ada yang tidak tergapai dan hilang dari bagian hidup sehingga aku merasa tidak utuh, menyurutkan semangat untuk menjadi diri sendiri dan lari dari semua keadaan yang tidak bisa kembali dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan semu di sepanjang hari. Setiap fase di lingkaran, selalu ada, dan entah kapan fase itu hilang sepenuhnya.

Aku juga mempertanyakan diriku, apakah aku memang tidak memiliki keinginan untuk menjadi seperti manusia biasa yang di dalam hatinya tertarik, membiarkan seseorang masuk dalam ruang pribadi yang aku sampai sekarang tidak bisa membayangkannya. Membiarkan seseorang asing menembus pertahanan diriku yang paling dalam dan mengetahui seluruh apa yang aku sembunyikan bahkan dari diriku sendiri adalah sebuah hal yang tak bisa aku pahami.

Tapi, berkaca dari versi diriku sebelumnya, mungkin aku memang tidak membiarkan hal tersebut terjadi, karena dulu, aku pernah ada di posisi tidak punya pilihan selain membuka diri, membiarkan seseorang mengintimidasi batasan yang tidak terlihat, sangat mempesona sampai aku kehilangan diriku. Aku tidak pernah menyalahkan dirinya yang tiba tiba datang mengintervensi zona nyamanku, karena sesungguhnya aku yang tertegun akan kehadiran dan aku yang membiarkan auranya mendorong diriku sampai titik terdalam.

Tak apa, aku sudah berdamai, meskipun terkadang penyesalan selalu teringat lagi dan lagi

Comments

Popular Posts