2026,

 Jakarta, 11 Agustus 2026


Nafasku memburu karena ketidaksabaran, sebuah pemikiran yang entah dari mana bisa menemukan kembali lembar demi lembar unggahan pemikiran yang secara acak dan dapat ku baca kembali.

10 tahun sejak terakhir kali blog ini digunakan, apa kabar?

aku sedang berada di sini, di sebuah kantor dengan dokumen di samping kiri berlogo kementerian yang minta untuk ditanda tangani. 

Dua hari ini pikiranku penuh oleh satu cerita di satu situs, yang dengan sangat detail menceritakan bagaimana dua orang asing dapat menyatukan diri dan jiwanya dalam sebuah mutual understanding meskipun dalam diam. Kebutuhan keduanya untuk saling melengkapi tanpa harus ada kalimat panjang penjelasan yang diucapkan. Setiap diksi dalam alur cerita tersebut seperti meresap ke dalam, melunakkan semua pemikiranku yang selama ini terbangun tembok tinggi masalah komunikasi. Lebih dari sepuluh tahun berlalu, aku masih belum bisa melupakan kesalahan dan penyesalanku karena terlepas dari benang merah yang mengikat dua kehidupan berbeda untuk selalu bergesekan. Bagaimana aku berharap meski dalam diam, satu keterikatan dapat terbangun secara alami seperti dalam cerita tersebut. Sampai pada rasa desakan yang besar untuk kembali menulis, mengosongkan pikiran yang selama ini ku kira sudah hilang. Ternyata, bahkan waktu tidak bisa membantu.

Aku kembali terjebak dalam setiap potongan kenangan yang secara perhitungan logika seharusnya sudah terkubur dalam, apa yang kamu harapkan dari seseorang yang sudah melewatkan lebih dari satu dasawarsa dari terakhir kali kenangan tersebut terbentuk? tapi kenapa aku masih ada di sana?

Di ujung jalan fakultas, menyebrangi garis penyebrangan yang sama dengan senyum gugup dan berpura  bercengkrama, tensi yang sama dan keinginan menyapa yang sama, dengan keterkejutan yang sama. Hai diriku, bagaimana aku dengan kesadaran terbuka melepasmu?, aku rindu.

Comments

Popular Posts